bilangan tanya?
0123456789
adakah bilangan-bilangan itu mutlak?
sanepa’
lantas….
bilangan mana untuku?
0
mimpikah?
0123456789
adakah bilangan-bilangan itu mutlak?
sanepa’
lantas….
bilangan mana untuku?
0
mimpikah?
0123456789
inikah desaku yang hilang?
dikelilingi sawah dan kebun bawang
anak bawang bercumbu dengan belalang
jalang, menerjang.
terbang-terbang
karena desaku sudah hilang
sawahku penuh racun meradang
airnya pekat dari limbah menggenang
orang-orang desaku, berenang
simiskin tenggelam sikaya menari girang
tegal, 31012009
Kereta di STASIUN KOTA. Mata-mata sudah lelah. Matahari juga sudah tak ada Diganti benderang lampu kota Kau hendak kemana? Hujan sudah reda… Kupu-kupu simpuh di bunga malam Tercecer dari pinggir rel, trotoar jalan Hingga gedung tinggi. Lagu riuh mengalun sunyi Mengiris dada, mengucur nada ironi Menggoyang gerbong, laksana gempa Tubuh terkulai, lunglai dikubur runtuhan kota Adakah cinta untuk aku kereta tua? Yang setiap hari membawamu dalam suka dan duka. Adakah cinta untuk aku kota lama? Yang lacur, hancur, lagi merana. Pasar rebo, 03012009
Kereta di STASIUN KOTA. Mata-mata sudah lelah. Matahari juga sudah tak ada Diganti benderang lampu kota Kau hendak kemana? Hujan sudah reda… Kupu-kupu simpuh di bunga malam Tercecer dari pinggir rel, trotoar jalan Hingga gedung tinggi. Lagu riuh mengalun sunyi Mengiris dada, mengucur nada ironi Menggoyang gerbong, laksana gempa Tubuh terkulai, lunglai dikubur runtuhan kota Adakah cinta untuk aku kereta tua? Yang setiap hari membawamu dalam suka dan duka. Adakah cinta untuk aku kota lama? Yang lacur, hancur, lagi merana. Pasar rebo, 03012009
Panggung yang megah
cukup menghibur dan menggugah
Malam yang indah
Ah…
Rumahku di tepi sawah
Dentum kodok menambah meriah
Tapi apa yang murah?
Hidup terasa semakin susah
Meski ia, jiwa ini harus selalu sumringah.
Huwalah….
Kemana diri mengadu, ke pak Lurah?
Presiden, wakil rakyat juga cuma diam, astagah!
Bisakah?
-whp-
:masih ada mimpi yang tertinggal di kota bunga
aku rindu senja yang mengantarkan mentari
aku rindu malam yang memekarkan bunga teratai
kau berlari berputar
Dan waktu terus berlayar
di bawa angin kejar mengejar
bilang saja pada nafasmu
jika kau rindu cumbu
altar biru lonceng syahdu
Dia memanggil
Kasih suci tanpa meminta
Sujud doa, mengiba, ampunkan dosa.
aku memandang bintang yang menggelayut di langit hatiku
dalam ruang gelap, diselimut dingin.
kubuka bajuku, kubuka celanaku
telanjang…
kolam, kolam, kolam
aku masuk
badanku tenggelam
dadaku bergetar
bibirku menggigil
ku ucap
Kau Maha Besar.
:wh
di bawah selimut
sembunyi dari dingin
hasrat datang bergelayut
meski jauh…
seperti sunyi yang membalut sepi
mimpi itu kau
datang dan pergi tak berwarna
kadang hitam, tampak putih atau abu-abu
sunyi pulang pada tawa yang hilang
mencumbu bibir pantai yang panjang
lalu terhempas bersama debur ombak
berdecak gemuruh
dibawa angin
kita adalah rupa yang berpendar
mewujud menjadi apapun
di bawah selimut
sembunyi dari dingin
hasrat datang bergelayut
meski jauh…
seperti sunyi yang membalut sepi
mimpi itu kau
datang dan pergi tak berwarna
kadang hitam, tampak putih atau abu-abu
sunyi pulang pada tawa yang hilang
mencumbu bibir pantai yang panjang
lalu terhempas bersama debur ombak
berdecak gemuruh
dibawa angin
kita adalah rupa yang berpendar
mewujud menjadi apapun
aku dalam ruang iblis
menari dalam balutan ribu cahaya
irama dari ranah neraka
gadis biru
wajah parno bergelayut didadaku
tangannya liar
bibir mendesah seperti macan lapar
meraum
pelangi
tiga dimensi dalam bara api
ahhhh…
mengucur darah
angkasa raya
ruang tak berujung
pelangi
pengembaraan
membalut jiwaku